Kamis, 05 April 2018

Mengukur Kesiapan Indonesia Sebagai Kiblat Fesyen Dunia 2025

Mengukur Kesiapan Indonesia Sebagai Kiblat Fesyen Dunia 2025

Pemerintah Indonesia melalui cetak birunya beberapa tahun lalu sempat membuat target progresif di bidang fesyen dunia. Target tersebut adalah membuat Indonesia menjadi acuan tren fesyen dunia di 2025.

Tahun 2025 semakin dekat. Apakah target tersebut kian realistis atau justru sebaliknya?

Desainer ternama Ali Charisma menilai target tersebut sebetulnya tak terlalu muluk. Dalam hal ini, Indonesia menurutnya memiliki 'pekerjaan rumah' untuk membuat busana yang tak 'kebarat-baratan' dan khas Indonesia.

Sehingga, ke depan Indonesia bisa mencetak desainer-desainer berkelas namun tak melulu diukur dari partisipasinya di ajang-ajang mode tingkat dunia di luar negeri. Melainkan justru desainer ternama dunia yang datang ke Indonesia untuk melihat tren mode.

"Goal saya ke depannya, pelaku industri luar melirik Indonesia untuk beli dan datang ke sini. Kalau itu terjadi, Indonesia bisa jadi salah satu pusat mode dunia," ujar National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) itu.

Di samping itu, untuk menuju ke sana Ali melihat pekerjaan rumah lainnya adalah bagaimana para desainer dan pengrajin semakin mempererat kerjasamanya dalam menghasilkan produk fesyen. Keduanya harus bekerjasama dalam memaksimalkan kekayaan Indonesia yang luar biasa.

"Harusnya kolaborasi untuk mewujudkan suatu produk. Karena kadang desainer keren, tapi enggak didukung artisan yang bagus," kata Ali.

Busana muslim menjadi salah satu andalan Indonesia di gelaran mode tingkat internasional. Saat ini semakin banyak desainer busana muslim, atau yang sering dikategorikan sebagai modest fashion, yang memamerkan karyanya di luar negeri.
Namun, para desainer modest fashion tanah air pun menghadapi tantangan tersendiri. Desainer Itang Yunasz mencatat salah satunya adalah bagainana koleksi modest wear yang dibuat para desainer tanah air bisa memiliki 'look' alias tampilan yang internasional.

Bisa juga dengan mempertimbangkan musim di negara empat musim.

"Jadi jangan buat busana muslim yang diperuntukan hanya untuk segmen Indonesia. Kayak etnik, jangan 100 persen etnik Indonesia dibawa. Mungkin ada sedikit sentuhan yang bisa dijual di dunia internasional," ujar Yongki beberapa waktu lalu.

Dari sisi pemerintah daerah, salah satu pekerjaan rumahnya adalah mengenai kesiapan pengrajin lokal. Terlebih banyak desainer yang memakai bahan dasar kain lokal untuk karya busananya dan mengajak para pengrajinnya untuk bekerja sama.

Novita Hardini, istri Pelaksana Tugas Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, semat mewanti-wanti para pengrajin lokal di wilayah Trenggalek untuk siap memproduksi berkali-kali lipat lebih banyak untuk mengantisipasi permintaan yang membludak.

Terutama motif-motif yang dibawa ke pekan mode dunia. Kain Trenggalek sebelumnya sempat menjadi salah satu kain daerah yang dibawa ke London Fashion Week 2018 oleh desainer busana muslim Lia Afif.

Di luar itu, para pengrajin daerah juga diharapkan siap untuk permintaan jangka panjang.

Novita menjelaskan, para pengrajin biasanya hanya mampu menghasilkan selembar kain batik dalm seminggu. Ia pun berharap jumlah itu bisa ditingkatkan.

"Jadi kalau ada permintaan banyak saya bilang ke para pengrajin kalau bisa seminggu tiga batik," katanya.

Dengan bertumpuk pekerjaan rumah di bidang fesyen tersebut, apakah target menjadi pusat mode dunia di 2025 bisa tercapai sesuai target?

"Tidak terlalu muluk, tapi saya melihat realitas di pasar dan kami (desainer) melakukan yang terbaik. Kalau tidak tercapai ya kita kejar. Kan PR-nya lebih banyak ke pemerintah," kata Ali Charisma.

"Tapi bagi saya, bagaimana desainer mencerminkan fesyen Indonesia tapi tetap bisa diterima baik di dalam maupun luar negeri," tegasnya.

0 komentar:

Posting Komentar